Deskripsi


Judul :
Menumbai Madu Pohon Sialang
Kategori :
Tradisi
Kabupaten :
Pelalawan
Penerbit :
Admin
Link Video :

Menumbai Madu Pohon Sialang


Menumbai madu sialang merupakan kegiatan mengambil madu dari pohon sialang, yakni sejenis pohon tertentu yang tinggi dan besar, disenangi oleh lebah untuk tinggal dan menghasilkan madu. Uu hamidy (1983), menyebutkan ”menumbai” berasal dari kata “tumbai” atau “umbai”, yang artinya “turun” atau juga “menurunkan” dengan menggunakan tali dan bakul. Arti ini juga menggambarkan gerak menurunkan sarang lebah memakai timba bertali. Kegiatan menumbai ini dilakukan di malam hari, pada saat kondisi gelap gulita.  Sialang bukanlah nama sebuah pohon. Tetapi nama pohon apa saja yang bisa dihuni oleh lebah dalam menghasilkan madu. Jenis lebah yang bersarang tersebut adalah apis dorsata binghami, yang hidup di asia selatan dan tenggara. Pohon yang dihuni oleh lebah ini lebarnya bisa mencapai dua kali pelukan orang dewasa, tinggi dan licin sehingga tidak sembarang orang bisa mengambil madu yang dihasilkan lebah di atasnya. Oleh karena itulah, tradisi menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak benda di tingkat nasional. Kegiatan menumbai biasanya dipimpin oleh seseorang yang disebut juragan tuo, dibantu dengan beberapa juru panjat lainnya yang disebut dengan juragan mudo. Ada juga orang yang menyambut di bawah atau yang disebut tukang sambut. Juragan tuo bertindak sebagai pimpinan kelompok yang bertanggung jawab terhadap keselamatan anggotanya dari berbagai resiko pengerjaan. Ancaman utama yang dihadapi para juragan mudo adalah gigitan lebah, ancaman binatang buas yang menghuni pohon hingga makhluk-makhluk ghaib yang ada di sekitar. Inilah yang menjadi pertanggung jawaban juragan tuo. Jika diperlukan, ia bisa juga memanjat pohon membantu juragan mudo. Banyaknya jumlah juragan mudo yang diperlukan dalam setiap pengerjaan bergantung pada jumlah pohon yang akan dipanjat. Sebelum memulai menumbai, biasanya anggota kelompok membersihkan lebih dulu semak-semak di sekitar pohon. Membuat pondok untuk berjaga, lalu membuat tali berbentuk tangga untuk memanjat pohon. Pohon sialang sangat tinggi, bisa mencapai hingga 30-40 meter. Oleh sebab itulah keselamatan para pemanjat sangat penting diperhatikan. Orang petalangan yang merupakan suku asli yang bermukim di pelalawan lah yang menjaga tradisi menumbai tersebut. Mereka hidup dari hasil ekonomi menumbai lebah, oleh karena itulah tradisi ini terus diajarkan turun temurun di masyarakat daerah tersebut. Untuk melakukan kegiatan menumbai madu, dilakukan beberapa serangkaian ritual adat dan kepercayaan masyarakat petalangan. Menumbai tidak bisa dikerjakan setiap saat. Biasanya dalam setahun hanya 2 hingga 3 kali saja bisa dilakukan untuk hasil yang maksimal. Sebab menurut orang petalangan, lebah bersarang di pohon sialang hanya empat kali dalam setahun, yakni musim bunga jagung, musim bunga padi, selepas menuai, dan semasa menebang menebas ladang. Madu yang paling diminati dari keempat musim tersebut adalah madu di musim bunga padi, yakni madu berwarna putih.


Pustaka Terkait

"Tradisi"


Bakar Tongkang
Kategori :
Pacu Jalur
Kategori :
Koba
Kategori :